Rp 59.000
Penulis : Destya Handri Sujarwoko
ISBN : -
Terbit : 2026
Ukuran : 14.8 cm x 21 cm
Tebal : x + 122 hlm.
Kertas : Book Paper
--BELI SEKARANG--
Kategori : Biografi, Umum
Sinopsis
Buku ini lahir diilhami oleh sebuah peristiwa kecil pada suatu pagi. Di minggu-minggu awal berdinas di Tulungagung, saya termenung saat melihat dua buah foto yang terpasang di lobi Polres Tulungagung. Yang pertama, foto tahun 1908, menampilkan Bupati RM Sosrodiningrat bersama staf di depan rumah kediaman pangeran, yang saat ini menjadi lokasi Polres Tulungagung. Yang kedua, foto upacara peringatan Hari Bhayangkara tahun 1976, saat Kapolres Tulungagung Letkol Pol Soetardjo menyerahkan piagam penghargaan kepada masyarakat.
Gara-gara melihat foto tersebut, saya menjadi penasaran, bagaimana situasi masyarakat Tulungagung saat foto tersebut dibuat? Apakah konflik antaroknum perguruan pencak silat sudah ada? Apakah penyalahgunaan narkoba juga sudah mulai marak? Apakah perilaku ugal-ugalan pengemudi bus umum dan penggunaan knalpot brong sudah mulai terjadi? Apakah masyarakat sudah menerbangkan balon udara liar saat lebaran? Apakah situasinya sama dengan dinamika masyarakat Tulungagung saat ini? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang berkecamuk dalam kepala saya.
Saya juga penasaran bagaimana strategi pemolisian yang diterapkan kala itu. Apa saja upaya yang dilakukan oleh Kapolres untuk mengatasi permasalahan yang terjadi kala itu? Apa saja tantangannya? Bagaimana hasilnya? Apakah sama dengan strategi pemolisian yang kami lakukan sekarang. Semua pertanyaan tersebut sama sekali tidak terjawab. Nihil informasi. Rasa penasaran saya sama sekali tidak menemukan penawar. Dibiarkan menggantung entah sampai kapan.
Tentu saja hal tersebut membuat hati saya kecewa. Namun di tengah rasa kecewa tersebut, saya berpikir bahwa kekecewaan yang sama tidak boleh dirasakan Kapolres Tulungagung kelak 30, 40, atau bahkan 100 tahun yang akan datang. Cukup saya saja yang kecewa. Cukup saya saja yang menanggung rasa penasaran. Bagaimana caranya? Saya perlu menuliskannya dalam sebuah buku. Buku yang setidaknya menggambarkan bagaimana situasi masyarakat Tulungagung ketika saya berdinas sebagai Kapolres, apa saja peristiwanya, dan bagaimana strategi pemolisiannya.
Oleh karenanya, di atas kertas ini, dengan tinta ini, saya mengucapkan berjuta terima kasih, apresiasi, dan penghargaan yang tinggi kepada saudara-saudara saya: Wiwieko Dharmaidiningrum, David Yohanes, Destyan Handri Sujarwoko, Deny Trisdiyanto, dan Bramanta Putra Pamungkas. Meskipun menulis dan memotret adalah bagian penting dalam kehidupan sehari-hari mereka, namun saya sepenuhnya meyakini bahwa tidak serta merta mudah menuangkan kata dan pemikiran dalam buku ini. Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah curahan pemikiran, harapan, dan hasil perenungan yang mendalam.